Chairul
Tanjung adalah anak ke-2 dari 6 bersaudara. Ia adalah seorang anak dari
percampuran budaya batak dan sunda. Semasa kecil ia lewati dengan penuh
keprihatinan akibat ayahnya yang memiliki ideology yang berbeda dengan orde
baru yang membuat semua sumber penghidupan keluarganya gulung tikar. Itulah
yang membuatnya pantang menyerah dengan kehidupannya. Ia memutar otak bagaimana
caranya untuk hidup mandiri tanpa bergantung dengan orang tua.
Banyak
sekali usaha yang telah ia geluti dari semasa kecil hingga sekarang. Mulai dari
menjual es mambo semasa duduk di SD, membuka bisnis foto copy, menjual
alat-alat praktik kedokteran gigi hingga saat ini ia menjadi seorang pebisnis
yang sukses. Ia sekarang adalah seorang pemilik Bank Mega, Carrefour Indonesia,
Trans TV, Trans 7,dan portal berita
Detik. Semuanya ia dapat tidak dengan cara yang instan, ia menggapai itu semua
dengan penuh perjuangan.
Ia
dahulu bersekolah di SD dan SMP Van Lith yang merupakan sekolah katolik milik
Belanda, ia juga alumni dari SMA Boedi Oetomo 1. Ia berkuliah di Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Pada saat semester pertama, ibunya rela
untuk menggadaikan kain sutranya. Dan saat itulah ia mulai bertekad untuk
membayar biaya kuliah sendiri dan biaya kehidupan sendiri. Bisnis pertama kali
sewaktu di bangku kuliah yang ia geluti adalah membuka bisnis foto kopi. Saat
itu ada sebuah buku yang harus ia foto kopi tapi ia merasa foto kopi dekat
kampusnya itu terlalu mahal, ia berpikir kalau semahal itu ia pasti tidak
sanggup, pada saat itu ia ingat kalau ia punya seorang teman yang membuka
bisnis foto kopi dan ia pun menawarkan jasa foto kopi itu dengan biaya yang
lebih murah dibandingkan dengan yang di kampusnya itu, alhasil setiap ada buku
yang harus di foto kopi, semua temannya memilih memakai jasanya, begitu pun
dengan bisnis menjual alat-alat kedokteran gigi. Pada masa kuliah ia juga aktif
di bidang kemahasiswaan dan telah memiliki jiwa kepemimpinan. Saat itu ia telah
menjadi ketua mahasiswa di Universitas Indonesia, bahkan ia juga menjadi
mahasiswa teladan nasional. Saat ia sudah lulus, ia bertemu dengan Anita Ratnasari.
Anita adalah seorang junior di kampusnya itu dan di fakultas yang sama, dan
sekarang Anita Ratnasari adalah istrinya.
Berkat
kerja keras yang tinggi, ia sekarang telah sukses menjadi seorang pebisnis.
Banyak sekali perusahaan yang dimiliki sekaligus dipimpinnya. Tetapi, ayah yang
mempunyai dua anak ini pantang untuk masuk ke dunia politik. Ia berpikir bahwa
politik itu kejam. Hal itu telah ia rasakan sewaktu ia menjadi mahasiswa dan
menjadi pemimpin gerakan mahasiswa menentang militer masuk kampus, dimana waktu
itu penguasa rezim orde baru hendak mengganti rektor UI Prof. Dr. Mahar
Mardjono oleh Nugroho Notosusanto yang berlatar militer.
Tidak
semua bisnisnya sukses, contohnya saja pabrik sumpit yang dibangunnya di daerah
citeurep, Bogor, dan pabrik sepatu yang malah menjadi pabrik sandal. Tapi, itu
semua tidak membuatnya putus asa. Ia terus mencoba dan mencoba. Dalam berbisnis
harus punya keberanian untuk menanggung resiko yang tidak diinginkan. Tetapi,
kesuksesan yang dimilikinya ini tidak membuatnya menjadi lupa diri terhadap
sesama. Ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap negeri ini. Contohnya saja
saat terjadi tsunami aceh pada tahun 2005, ia turun langsung ke Aceh untuk
memberikan bantuan kepada korban dan juga membangun sebuah sekolah untuk
anak-anak korban tsunami, dan ia juga berjanji untuk membiayai mereka hingga
S-1 atau S-3.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar