Sabtu, 26 Januari 2013

Chairul Tanjung Si Anak Singkong



Chairul Tanjung adalah anak ke-2 dari 6 bersaudara. Ia adalah seorang anak dari percampuran budaya batak dan sunda. Semasa kecil ia lewati dengan penuh keprihatinan akibat ayahnya yang memiliki ideology yang berbeda dengan orde baru yang membuat semua sumber penghidupan keluarganya gulung tikar. Itulah yang membuatnya pantang menyerah dengan kehidupannya. Ia memutar otak bagaimana caranya untuk hidup mandiri tanpa bergantung dengan orang tua.
Banyak sekali usaha yang telah ia geluti dari semasa kecil hingga sekarang. Mulai dari menjual es mambo semasa duduk di SD, membuka bisnis foto copy, menjual alat-alat praktik kedokteran gigi hingga saat ini ia menjadi seorang pebisnis yang sukses. Ia sekarang adalah seorang pemilik Bank Mega, Carrefour Indonesia, Trans TV, Trans 7,dan  portal berita Detik. Semuanya ia dapat tidak dengan cara yang instan, ia menggapai itu semua dengan penuh perjuangan.
Ia dahulu bersekolah di SD dan SMP Van Lith yang merupakan sekolah katolik milik Belanda, ia juga alumni dari SMA Boedi Oetomo 1. Ia berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Pada saat semester pertama, ibunya rela untuk menggadaikan kain sutranya. Dan saat itulah ia mulai bertekad untuk membayar biaya kuliah sendiri dan biaya kehidupan sendiri. Bisnis pertama kali sewaktu di bangku kuliah yang ia geluti adalah membuka bisnis foto kopi. Saat itu ada sebuah buku yang harus ia foto kopi tapi ia merasa foto kopi dekat kampusnya itu terlalu mahal, ia berpikir kalau semahal itu ia pasti tidak sanggup, pada saat itu ia ingat kalau ia punya seorang teman yang membuka bisnis foto kopi dan ia pun menawarkan jasa foto kopi itu dengan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan yang di kampusnya itu, alhasil setiap ada buku yang harus di foto kopi, semua temannya memilih memakai jasanya, begitu pun dengan bisnis menjual alat-alat kedokteran gigi. Pada masa kuliah ia juga aktif di bidang kemahasiswaan dan telah memiliki jiwa kepemimpinan. Saat itu ia telah menjadi ketua mahasiswa di Universitas Indonesia, bahkan ia juga menjadi mahasiswa teladan nasional. Saat ia sudah lulus, ia bertemu dengan Anita Ratnasari. Anita adalah seorang junior di kampusnya itu dan di fakultas yang sama, dan sekarang Anita Ratnasari adalah istrinya.
Berkat kerja keras yang tinggi, ia sekarang telah sukses menjadi seorang pebisnis. Banyak sekali perusahaan yang dimiliki sekaligus dipimpinnya. Tetapi, ayah yang mempunyai dua anak ini pantang untuk masuk ke dunia politik. Ia berpikir bahwa politik itu kejam. Hal itu telah ia rasakan sewaktu ia menjadi mahasiswa dan menjadi pemimpin gerakan mahasiswa menentang militer masuk kampus, dimana waktu itu penguasa rezim orde baru hendak mengganti rektor UI Prof. Dr. Mahar Mardjono oleh Nugroho Notosusanto yang berlatar militer.
Tidak semua bisnisnya sukses, contohnya saja pabrik sumpit yang dibangunnya di daerah citeurep, Bogor, dan pabrik sepatu yang malah menjadi pabrik sandal. Tapi, itu semua tidak membuatnya putus asa. Ia terus mencoba dan mencoba. Dalam berbisnis harus punya keberanian untuk menanggung resiko yang tidak diinginkan. Tetapi, kesuksesan yang dimilikinya ini tidak membuatnya menjadi lupa diri terhadap sesama. Ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap negeri ini. Contohnya saja saat terjadi tsunami aceh pada tahun 2005, ia turun langsung ke Aceh untuk memberikan bantuan kepada korban dan juga membangun sebuah sekolah untuk anak-anak korban tsunami, dan ia juga berjanji untuk membiayai mereka hingga S-1 atau S-3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar